Perlunya Reorientasi MOS

Oleh Siti Dahliya (Pengajar MTs Al-Khairiyah TbS, Bandarlampung)
Masa orientasi siswa (MOS) merupakan adaptasi siswa memasuki sekolah baru. Karena pihak sekolah atau perguruan tinggi biasanya melibatkan panitia OSIS atau senat mahasiswa sebagai panitia pendamping, tak ayal sering dijadikan ajang memperlihatkan ’’senioritas’’-nya.

DIMULAI dari perintah untuk membawa yang aneh-aneh, tidak dapat dipahami secara langsung maksudnya, sering membuat orang tua kebingungan. Tidak hanya itu. Peserta biasanya suka ’’diperintah’’ yang tidak mereka pahami. Ditambah tak sedikit harus membuat penampilan yang unik, seperti memakai sandal berlainan dan muka dicorat-coret. Banyak sekali tanggapan masyarakat bahwa MOS hanyalah perpeloncoan. Polemik tersebut pun terus bergulir. Bagaimana sebenarnya tentang MOS. Masih perlukah setiap siswa baru melaksanakan MOS? Sejauh mana efektivitas MOS ini terhadap adaptasi siswa baru di  sekolah?

Menghadapi hal itu, pihak orang tua siswa menanggapinya beragam. Ada yang tidak peduli dan memandang wajar. Ada juga menyayangkan tapi tetap mengikutsertakan putrinya. Kemudian mempertanyakan apa gerangan manfaatnya. Terlepas dari itu, menurut salah seorang guru pembina siswa, MOS adalah tahap pengenalan sekolah dan lingkungannya. Mereka diberikan bekal mengenal lingkungan, kakak kelas, teman-teman, dan lain sebagainya.

Itu semua tentu sangat bermanfaat sebagai bentuk adaptasi siswa baru terhadap sekolah yang akan dimasukinya. Namun, tak sedikit para siswa yang belum merasakan manfaat MOS. Ia menguraikan, itu hanyalah kegiatan seremonial yang manfaatnya perlu ditinjau ulang. Prof. Kurt Singer dalam Sindhunata (2001) membeberkan panjang lebar gejala anomali pada pendidikan kita. Menurutnya, sekolah bukan lagi tempat yang nyaman bagi anak-anak. Sistem pendidikan sekolah mau tak mau menjadikan guru sebagai agen yang mengawasi, menindas, dan merendahkan martabat para siswa. Sekolah menjadi lingkungan penuh sensor yang mematikan bakat serta gairah anak untuk belajar.

Pekerjaan dan kewajiban sekolah  menjadi diktator yang memusnahkan kemampuan anak untuk belajar menjadi dirinya. Sekolah/kampus bukan lagi tempat belajar, melainkan mengadili dan merasa diadili. Singer menyebut, pendidikan sekolah kita yang mengakibatkan kegelisahan dan ketakutan itu sebagai  schwarzer paedagogic (pedagogi hitam). (Sindhunata, 2001).

Seperti tahun-tahun sebelumnya, penerimaan siswa baru ditindaklanjuti dengan MOS. Umumnya  kegiatan ini dilaksanakan untuk memberikan orientasi kepada siswa baru tentang sarana dan prasarana pembelajaran di sekolah berikut pengenalan para pendidik, tenaga teknis, maupun administrasinya.

Tak lupa pula beberapa materi yang terkait dengan wawasan wiyata mandala, materi keorganisasian, dan materi pengembangan karakter lainnya beserta aturan-aturan akademik yang berlaku di sekolah bersangkutan. Intinya, pelaksanaan MOS bertujuan memberikan kesan positif dan menyenangkan bagi siswa baru terhadap lingkungan pendidikan barunya. Demi menghindarkan adanya kekerasan (bullying) dalam MOS, Kementerian Pendidikan Nasional akan mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) tentang penerimaan siswa baru. Pastinya, kemunculan Permendiknas  ini merupakan jawaban terhadap kekhawatiran sebagian besar orang tua siswa bahwa MOS akan berubah menjadi ajang perpeloncoan dan balas dendam oleh siswa senior.

Kekhawatiran orang tua siswa tersebut tentunya tak mengada-ada. Meski beberapa tahun terakhir wacana penolakan terhadap model perpeloncoan ini sempat keras disuarakan, di beberapa sekolah masih saja terbetik kabar tentang adanya korban fisik maupun jiwa. Entah kapan pelaksanaan MOS mulai menyimpang dari amanat awal  dan menjurus pada tradisi perpeloncoan dan bullying.

Namun,  bisa dipastikan penyelewengan ini bermula dari tak dipahaminya esensi MOS di sekolah, lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh guru, maupun tak jelasnya model penyampaian materi MOS. Sebab, lain yang tak kalah penting adalah tidak adanya pembekalan dan penyadaran terhadap siswa senior dalam memperlakukan siswa baru saat MOS. Padahal, mereka adalah garda depan yang bersinggungan langsung dengan mereka.

Mengantisipasi agar pelaksanaan MOS tahun ini tidak meminta korban lagi, reorientasi MOS mutlak perlu dilakukan. Permendiknas bukanlah satu-satunya solusi ampuh. Toh bagaimanapun, hasil akhir akan kembali pada aktor-aktor lapangan. Dengan reorientasi, aura perpeloncoan dan kekerasan yang selama ini melingkupi pelaksanaan MOS bisa berubah menjadi aura pencerdasan.

Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat (2008: hal. 989), istilah ’’orientasi’’ didefinisikan sebagai  ’’peninjauan untuk menentukan sikap (arah, tempat, dsb) yang tepat dan benar’’. Mengacu istilah itu, kegiatan orientasi erat hubungannya dengan sikap, persepsi, maupun pola tingkah laku yang benar dan tepat. Mengait MOS, model orientasi yang tepat akan mengarahkan siswa baru pada sikap dan perilaku yang diharapkan, sebaliknya (ini bahayanya!) orientasi yang keliru justru akan membawa siswa baru pada perilaku yang keliru dan menyesatkan. Lantas reorientasi seperti apa yang mesti dilakukan?

Pertama, mengubah paradigma siswa senior sebagai pelaksana MOS di lapangan bahwa MOS bukanlah sarana balas dendam atas perlakuan yang telah mereka terima dahulu, melainkan sebuah ajang untuk saling asah, asih, dan asuh pada  siswa baru agar mereka mampu beradaptasi dan mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Bisa jadi upaya mengubah paradigma ini tak semudah teori, bahaya laten kekerasan oleh siswa senior masih berpotensi untuk muncul.

Oleh karena itu, langkah kedua yang mutlak dilakukan adalah diintensifkannya pengawasan yang dilakukan oleh guru secara real time. Lemahnya pengawasan atau mudahnya perizinan yang diberikan kepada siswa senior terkait dengan acara MOS bisa  jadi justru berujung pada tindak kekerasan. Di sini pula, kesamaan persepsi mengenai materi acara MOS antara guru dengan siswa senior mutlak diperlukan.

Last but not least, ketiga, adanya variasi metode penyampaian materi yang benar-benar menyentuh model Taksonomi Bloom (1956) yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pengutamaan aspek kognitif melalui metode konvensional mestilah dijauhi demi upaya pencerdasan anak didik. Pelaksanaan MOS mesti menjunjung tinggi prinsip pembelajaran yang ’’multidimensional, menyenangkan, mengasyikkan, mencerdaskan, memenuhi kebutuhan, dan memberi makna’’.

Perlu diingat, MOS merupakan tahap orientasi untuk membentuk sikap akademik dan sikap etis siswa. Metode yang menyentuh multidimensi kepribadian akan memberikan dampak yang positif  terhadap perkembangan intelektualitas dan karakter siswa baru. Kini, MOS yang mencerdaskan bukan lagi merupakan pilihan melainkan sebuah keharusan demi memotong spiral kekerasan di sekolah.

Perlunya format baru semestinya sekolah kini memformat ulang kegiatan MOS. Jika sebelumnya MOS laiknya yang saya uraikan di atas, setidaknya reformulasi sangat diperlukan. Ada poin-poin penting yang memang harus dipertahankan, namun caranya tidak mesti harus sama. Pertama, pengenalan sekolah baru. Ya, itu tetap dilakukan sebab siswa harus mengetahui seluk-beluk sekolahnya yang baru plus berbagai kegiatan ekstra yang ada.

Kedua, penggalian potensi bakat dan minat. Artinya, seluruh kegiatan ekstrakurikuler di sekolah diformat dalam Pekan Olahraga dan Seni (Porseni). Jadi, setiap kelas berhak mendelegasikan atletnya sesuai dengan bakat minat. Nantinya, para pembina ekskul yang bersangkutan tidak akan kebingungan merekrut anggota baru karena sudah diketahui sejak MOS. Yang terjadi selama ini jika kegiatan ekstra tidak ada peminatnya, pihak sekolah akan mewajibkan. Ketiga, Ekskul Expo (pameran kegiatan ekstra). Hal ini bisa dilakukan berbarengan dengan kegiatan Porseni yang ditangani sepenuhnya oleh pengurus OSIS dan para pegiat ekskul yang ada.

Setidaknya dengan Ekskul Expo, para pegiat kegiatan ekstra berlomba-lomba menggaet anggota sebanyak-banyaknya. Dengan memperbarui format MOS, tak akan ada lagi kasus perploncoan berdalih penegakan kedisiplinan. Kini bukan saatnya MOS menjadi ajang balas dendam senior pada juniornya. Akan tetapi, MOS merupakan momentum untuk penggalian bakat minat yang dimiliki oleh siswa, juga sebagai ‘pesta’ selamat datang kepada para peserta didik baru sehingga mereka bisa betah berada di sekolah baru. (*)

Iklan

About rendisroomz

Rendi Atau Temon Sama Saja

Posted on 14 Juli 2012, in Berita, Indonesia and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Kasih komen dong om dan tante

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s